JAKARTA - PT Pertamina (Persero) bertekad untuk tetap mempertahankan peran dan posisinya sebagai tulang punggung ketahanan energi
nasional sekaligus memantapkan bisnis hilir sebagai profit center.
Untuk itu Pertamina berencana membangun storage Bahan Bakar Minyak
(BBM).
"Pertamina dalam jangka waktu lima tahun mendatang akan membangun storage atau depot BBM baru dengan kapasitas tambahan sekitar 2 juta kilo liter (kl) dengan investasi sekitar USD130 juta," ucap Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya dalam siaran persnya, Jakarta, Rabu (18/6/2014).
Hanung menambahkan, untuk pelumas Pertamina juga sedang proses pembangunan lube oil blending plant (LOBP) dan juga grease plant dengan total investasi total sekitar Rp1,3 triliun. Pabrik pelumas tersebut akan menjadi yang terbesar dan tercanggih di Asia Tenggara.
Selain fokus pada upaya menciptakan margin usaha, Pertamina juga tetap akan berperan sebagai backbone atau tulang punggung ketahanan energi nasional. Menurut dia, 85 persen energi atau BBM didistribusikan oleh Pertamina. Bahkan, untuk PSO Pertamina memasok sekitar 98 persen dari total kuota yang disediakan pemerintah.
Pertamina saat ini juga menanggung stok operasional sekitar 18-20 hari. Artinya, setiap hari sekitar Rp44 triliun yang parkir untuk menjaga ketahanan stok tersebut.
"Tentu saja kami sangat mendukung upaya pemerintah untuk membangun dan mengembangkan strategic petroleum reserve dan Pertamina dengan segala perannya saat ini kami siap menjadi lead untuk hal tersebut," ungkap Hanung.
Menurut Hanung, untuk mewujudkan aspirasi 2025 Pertamina mengusung tema aggressive upstream and profitable downstream. Pertamina, tuturnya, optimistis untuk tetap mempertahankan pangsa pasar dominan bisnis hilir migas di Tanah Air.
"Selain menjalankan public service obligation (PSO) untuk BBM dan Elpiji 3kg. Di sisi lain, Pertamina tetap mempertahankan dominasi pasar bisnis hilir migas lainnya, mulai BBK retail, dan juga produk turunan migas non-BBM, seperti pelumas," kata dia.
Hanung mengatakan Pertamina telah dan akan melakukan berbagai langkah untuk meningkatkan profitabilitas bisnis hilir perusahaan, di antaranya dengan melakukan optimasi pada rantai distribusi dan juga perkuatan infrastruktur, baik BBM, LPG, pelumas dan juga petrokimia.
Optimasi rantai distribusi, salah satunya dilakukan dengan meningkatkan jumlah kapal milik untuk efisiensi biaya pengiriman kargo yang sekaligus meningkatkan margin perusahaan. "Pertamina sebagai BUMN energi yang 100 persen milik negara, kami bertekad untuk terus mempertahankan dominasi tersebut," tegas Hanung.
"Pertamina dalam jangka waktu lima tahun mendatang akan membangun storage atau depot BBM baru dengan kapasitas tambahan sekitar 2 juta kilo liter (kl) dengan investasi sekitar USD130 juta," ucap Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Hanung Budya dalam siaran persnya, Jakarta, Rabu (18/6/2014).
Hanung menambahkan, untuk pelumas Pertamina juga sedang proses pembangunan lube oil blending plant (LOBP) dan juga grease plant dengan total investasi total sekitar Rp1,3 triliun. Pabrik pelumas tersebut akan menjadi yang terbesar dan tercanggih di Asia Tenggara.
Selain fokus pada upaya menciptakan margin usaha, Pertamina juga tetap akan berperan sebagai backbone atau tulang punggung ketahanan energi nasional. Menurut dia, 85 persen energi atau BBM didistribusikan oleh Pertamina. Bahkan, untuk PSO Pertamina memasok sekitar 98 persen dari total kuota yang disediakan pemerintah.
Pertamina saat ini juga menanggung stok operasional sekitar 18-20 hari. Artinya, setiap hari sekitar Rp44 triliun yang parkir untuk menjaga ketahanan stok tersebut.
"Tentu saja kami sangat mendukung upaya pemerintah untuk membangun dan mengembangkan strategic petroleum reserve dan Pertamina dengan segala perannya saat ini kami siap menjadi lead untuk hal tersebut," ungkap Hanung.
Menurut Hanung, untuk mewujudkan aspirasi 2025 Pertamina mengusung tema aggressive upstream and profitable downstream. Pertamina, tuturnya, optimistis untuk tetap mempertahankan pangsa pasar dominan bisnis hilir migas di Tanah Air.
"Selain menjalankan public service obligation (PSO) untuk BBM dan Elpiji 3kg. Di sisi lain, Pertamina tetap mempertahankan dominasi pasar bisnis hilir migas lainnya, mulai BBK retail, dan juga produk turunan migas non-BBM, seperti pelumas," kata dia.
Hanung mengatakan Pertamina telah dan akan melakukan berbagai langkah untuk meningkatkan profitabilitas bisnis hilir perusahaan, di antaranya dengan melakukan optimasi pada rantai distribusi dan juga perkuatan infrastruktur, baik BBM, LPG, pelumas dan juga petrokimia.
Optimasi rantai distribusi, salah satunya dilakukan dengan meningkatkan jumlah kapal milik untuk efisiensi biaya pengiriman kargo yang sekaligus meningkatkan margin perusahaan. "Pertamina sebagai BUMN energi yang 100 persen milik negara, kami bertekad untuk terus mempertahankan dominasi tersebut," tegas Hanung.
No comments:
Post a Comment